Prolog

Buku ini ditulis dari ide yang sederhana.. dari apa yang ada di benak saya empat tahun silam :

 

Berawal dari pernyataanku empat tahun yang lalu, aku bersumpah di hadapan seorang sahabat

bahwa aku tidak ingin menjadi seorang ibu.

“Kamu tidak ingin punya anak?” tanyanya heran. Bukan! Bukan tidak ingin memiliki anak, tapi aku tidak mau menjadi ibu rumah tangga. Aku tidak ingin mengurus anak, aku tidak ingin mengurus rumah tangga, dan suami harus paham kalau aku tidak ingin melakukan hal tersebut.

Saat itu, adalah pertama aku mengenakan status sebagai mahasiswa, dan yang ada di kepala adalah sebuah cita-cita tinggi. Gambaran menjadi seorang wanita pengusaha yang memiliki rumah sakit mewah, yang memiliki salon dan butik yang besar, mengisi acara-acara dan menghadiri pertemuan penting, dan aku cukup sibuk dengan semua itu, sehingga pekerjaan-pekerjaan rumah tangga tentunya diurus oleh pembantu saja.

Terus terang, saat itu aku sangat menganggap remeh teman-teman yang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anak dengan tangannya sendiri. “Ngapain kamu belajar? Cita-cita kamu kan hanya ingin jadi ibu rumah tangga saja?” Kalimat tersebut sering terlontar ketika menjelang ujian. Sering juga dengan kasar aku menyeletuk mereka, “Ngapain kamu kuliah? Toh nanti kamu kan hanya diam di dapur dan mengurus anak,” kataku sadis. Sebagian teman menjawab, “Mengurus anak kan juga butuh ilmu,” atau, “Biar anak tahu kalau ibunya dulu juga kuliah, sehingga dia akan termotivasi,” dan jawaban lainnya yang serupa. Semakin banyak teman-teman beralasan, maka semakin membuat alasan tersebut basi di mataku. Kuno! Dan sangat kuno!

Ya, itu empat tahun yang lalu. Aku juga tidak mengerti apa yang menyebabkan aku berpikir demikian. Aku hanya ingin menjadi wanita yang mandiri. Berusaha melakukan sesuatu tanpa merepotkan orang lain. Bukan! Bukan aku meremehkan suami apalagi tidak butuh suami. Justru niatku saat itu adalah membantu suamiku kelak. “Antisipasi, kalau tiba-tiba suami di PHK bagaimana? Atau mendadak menjadi janda, gimana?” jawabanku ketika teman-teman yang bertanya kenapa aku semangat sekali menjadi orang kaya. “Cari suami yang kaya, dong!” celetuk seorang teman. “Terus kalau suami punya banyak kekurangan? Kalau suami tiba-tiba sakit?”

Diskusi akan masa depan sering terjadi di antara kami. Dan selama tiga tahun jawabanku tidak berubah, “Aku ingin memberikan yang terbaik untuk keluargaku kelak, tapi aku tidak mau jadi ibu rumah tangga!”

Belajar dan terus belajar, alam dan kehidupan ini banyak memberiku renungan-renungan. Hingga pikiranku tertuju pada sosok wanita yang drastis mengubah pikiranku. Wanita itu hanyalah tukang jahit biasa, yang puluhan tahun tak lelah mengayuh mesin jahit untuk membantu suaminya mencukupi kebutuhan keluarga. Pernah selama beberapa waktu ia menjadi tulang punggung keluarga, yang bukan hanya menafkahi diri dan anak-anaknya, tapi juga mengumpulkan rupiah uang untuk pengobatan suaminya.

Wanita itu tak pernah terlihat jemu. Sesekali dari bibirnya terdengar suara keluhan: akan betisnya yang pegal, kepalanya yang pusing, punggungnya yang sakit, namun ternyata hal tersebut sama sekali tidak mengurangi keuletannya. Pagi harus bangun menyiapkan kebutuhan rumah tangga, siang hingga malam membantu suami mencari nafkah. Ia tak sadar, dari tangannyalah anak-anak telah tumbuh besar hingga ke berhasil melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang perguruan tinggi. Ia tak sadar, dirinya telah memberikan banyak ilmu tentang bagaimana seharusnya menjadi sosok ibu yang ideal.

Dari wanita itu aku bertanya, siapakah dia? Ibu rumah tangga? Sebab mulai dari urusan suami, anak, hingga dapur ia mempu menanganinya. Ataukah ia seorang wanita karier?  Aku memang sering meng-“kotak-kotak”kan makna tersebut. Bagiku dalam hidup ini hanya ada dua pilihan untuk wanita, mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karier. Dan tentunya aku selalu menempati karier sebagai puncak kejayaan. Namun ternyata, kalimat sederhana sering keluar dari bibirnya, “Ah, saya hanya ibu-ibu biasa yang tidak bersekolah,” katanya santun.

Sesekali berpikir, jika aku jadi wanita itu, aku akan fokus pada karier dan meninggalkan semua urusan rumah tanggaku. Tentu, kalau aku lebih fokus karierku, usahaku akan lebih maju. Beda hasilnya jika pikiranku harus terpecah antara mengurus rumah tangga dan menjalani karier. Namun sikapnya seakan membuka pikiran yang sempit ini, bahwa siapa pun ia, sehebat apa pun ia, ia tetap memerankan kodratnya sebagai seorang ibu. Sungguh sebuah profesi yang mulia!

Tiba-tiba, aku ingin menelan kembali sumpahku empat tahun yang lalu. Aku ingin seperti wanita itu, menjadi seorang ibu. Bukan hanya ibu rumah tangga, atau ibu yang ‘hanya’ menekuni kariernya, tapi ibu yang berdaya guna dan membanggakan untuk keluarga dan umatnya.

Maka, karena wanita tersebutlah tulisan di buku ini hadir. Meski aku sadar tulisan ini tidak bernilai apa-apa dibandingkan kehebatan yang ia miliki untuk memperjuangkan hidupnya, juga hidupku, ketika ia melahirkanku di dunia ini.

Wanita sederhana itu … adalah ibuku.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s