Proses.. Ta’aruf.. Kenalan.. apapun namanya, dalam rangka mencari Jodoh :)

Dear.. sedikit ingin share artikel yang menarik.. pas dan menohok banget untuk teman-teman yang mungkin sedang mempersiapkan jenjang pernikahan. sedang ingin proses,, bingung.. atau sedang jatuh cinta dengan seseorang yang baru saja dikenal. waaiiitt…!! baca dulu deh, artikel berikut. semoga bermanfaat yaaa🙂🙂

————————————-

MUDAH HADIR, MUDAH PULA SIRNA. Oleh : Tatty Elmir.

Seketika saya ternganga, ketika seorang sahabat dekat yang sudah seperti saudara sendiri menegur saya yang entah kenapa senang sekali jadi mak comblang ( hahahaaa pengakuan jujur ceritanya )

“ Emang ga takut ya kalau terjadi apa-apa ?”, sergah si kakak.
“ Lha, mau ibadah kok takut ?“ balas saya
“ Iya kalau mereka bahagia, kalau ga ? dikau bakal disesalin mereka seumur hidup adekku “
“ Yah kan semua ada konsiderannya mba ( saya sok-sok menyesuaikan bahasa dgn si kakak yg ahli hukum )…soal resiko semua serba mungkin. Tapi kalau diniatkan ibadah..kan harus ikhlas…. Termasuk ikhlas jika disalahkan kalau memang salah atau dianggap salah “, jawab saya belagak kalem, padahal dalam hati deg..degan juga, sambil mikir….apa iya niat baik saja bisa jadi jaminan untuk sesuatu hasil yang baik ?. Belum lagi mata dan telinga kita yang sering sekali salah melihat dan mendengar… plus keterbatasan pusat memori yang kerap salah persepsi itu ?.

Saya terhenyak, ketika si ‘kakak’ meneruskan serangannya,
“ Tat, kebayang ga… si Fulan dan si Fulin yang baru saja kita kenalkan 2 bulan lalu sekarang sudah minta dinikahkan ? “,
“ Apa ? “, saya benar-benar kaget tak menyangka progresnya secepat itu. Padahal saya tahu persis mereka selama ini terpisah di benua berbeda. Hanya bersua di dunia maya, paling banter mendengar suara di telepon, alias belum pernah bertemu muka di dunia nyata.

Tiba-tiba saya teringat peristiwa tadi pagi, antara Ciawi – Jakarta, seorang ‘sahabat’ menasehati anak gadisnya yang sebentar lagi akan menjalani hidup menjadi mahasiswi rantau Insya Allah.

“ Nak, tau ga…tidak banyak gadis seberuntung dirimu…… pintar ini itu, dan Alhamdulillah lahir dalam keluarga yang saling mencintai. Karena itu jangan pernah lupa bersyukur atas semua karunia Allah, dengan cara merawatnya….. dan bla..bla..bla “
Ending ditutup dengan pesan utama si ayah
“ Jika suatu ketika engkau jatuh cinta anakku, jangan pernah dia tahu perasaanmu …pandai-pandailah menjaga diri dan hati…karena itu adalah inti segala kemuliaan dan kehormatan diri “, ujar laki-laki itu serius sembari tak lupa menceritakan bagaimana dulu upaya gigihnya memperjuangkan impiannya untuk menikahi seorang gadis yang ‘gengsian’ separoh mati….. pandai menyimpan rahasia hatinya, dsb..dst. Sembari bernostalgia mengisahkan kepenasarannya…… ( Oma Irama aja kalah heehehe )

Inti dari obrolan sang ayah dan anak gadisnya yang saya amati itu adalah pengajaran si ayah, tentang pentingnya menghargai PROSES.

Saya jadi tertarik untuk merenung dan menuliskan obrolan biasa tadi, mengingat dunia yang kita hadapi kini, adalah jagat yang serba instan, serba bergegas dan tak lagi menghargai proses.
Bukan hanya makanan !. Tengoklah apa yang terjadi di berbagai tempat bimbingan belajar. Pelajar dicekoki berbagai cara pintas menjawab soal. Namanya bisa rumus ‘The King’, ‘the Kong’ atau apalah namanya. Bahkan kita membaca laporan berbagai media, bagaimana bimbingan belajar bahkan sekolah sendiri, tertangkap melakukan kecurangan dengan memberi kunci jawaban.
Anak-anak digegas, dicekoki dengan cara instan… tidak lagi diajarkan nilai-nilai KETEKUNAN, KESUNGGUHAN, KETABAHAN. Tidak salah kalau generasi itu tak lagi mengenal,( boro-boro menghargai ) “ PROSES “.

Kembali kepada masalah ‘perjodohan’, saya kembali menerawang…memikirkan ‘anak-anak’ yang tengah dimabuk cinta setelah perkenalan di dunia maya.

“ Lha Bun…apa bedanya jatuh cinta dengan sahabat pena jaman beheula ? “ dalih salah seorang dari mereka.( Padahal itu hukumnya sdh pasti. Tidak semua gaya hidup orang lama BENAR. Dalam beberapa hal, justru orang jaman dulu harus belajar banyak pada GAYA HANIF anak jaman skrg )
Memang tak ada yang salah sih. Berkenalan bisa lewat cara apa saja. Medianya juga berubah-ubah, seirama dengan perkembangan jaman.
Saya juga mengerti kenapa anak-anak jaman sekarang berkomentar “ Alay…lebay “ ketika tak dapat memahami makna lagu “ Fatwa Pujangga “ karya Said Effendi yang kembali muncul ketika menjadi OST “ Sang Pemimpi “ yang dinyanyikan tokoh Arai.
Bisa dimengerti karena lirik awalnya berdendang “ Tlah kutrima….suratmu yang lalu….
Penuh sanjungan kata merayu…Syair dan pantun tersusun indah, sayang…Bagaikan madah fatwa pujangga “

Aduh nak… bukan masalah surat, …. internet, chatting, SMS, MMS…. Bukan sayang…bukan itu.
Juga tak salah jika kalian saling mengenal lewat facebook, twitter, blog, kaskus atau chat room atau apalah namanya.
Yang jadi masalah ketika urusan serius seperti pernikahan, kalian anggap “ Percobaan “, dengan alasan “ Khan ga jaminan juga, pacaran belasan tahun & tak sungkan-sungkan bermesraan di dpn publik kaya yang di TV sana, toh bentar juga cerai, trus kawin lagi, pacaran lg, lalu selingkh lagi tanpa rasa salah….toh pacaran yang lama itu tak akan menjamin membuat rumah tangga awet bahagia sejahtera kan bun ? Lagian toh bunda sendiri yg bilang berulang-ulang…pacaran setelah nikah aja, semua akan indah pada waktunya. “… pasti itu senjata keramatmu kan sayang ?

Lho nak….. siapa yang nyuruh kalian pacaran ? ckk..ckk.ckkk…trus ada embel-embel waktu yang sekian lama pula ?
“ Tapi bun… kan pekerjaan baik harus disegerakan ?”, begitu selalu delik mu.
Dudududuuuh nak sayang, memang betul pekerjaan baik harus disegerakan. Tapi apakah memutuskan menikah dengan manusia antah berantah itu pekerjaan baik ?
“ Belum tentu bunda…. “, kembali dikau berkomentar lirih.
Belum tentu nak…memang semua serba belum tentu dan tidak jaminan.
Tapi minimal …apapun pekerjaan yang kita ikhtiarkan hendaknya memenuhi rukun, syarat, dan jangan dilupakan KEPANTASAN, untuk menjalankannya. Apakah semua itu sudah melalui tahapan yang sewajarnya ?
Bukankah untuk membangun komitmen butuh waktu guna mendapatkan KEYAKINAN ?
Tidakkah semua yang mekar digegas juga akan layu digegas pula ? Tengoklah buah yang dikarbit, Soon ripe soon rotten bukan ?

Saya teringat dengan surat Fussilat ( QS 41 ).
Mulai dari ayat 9-12, setiap membacanya, dada saya berdegup hebat…….
Allah Sang Maha Berkehendak, Maha Berkuasa saja, ternyata SANGAT MENGHARGAI PROSES.
Lihatlah, di ayat ini disebutkan Allah menciptakan bumi dalam 2 masa, menentukan makanan bagi penghuninya dalam 4 masa, dan 7 langit dalam 2 masa pula pada setiap lapis langitnya.
Subhanallah.
Pastinya ayat ini penuh pembelajaran buat kita manusia yang tak punya kuasa dan tak berdaya apa-apa. Untuk apa Allah menjadikan sesuatu bermasa-masa?. Bukankah jika IA berkehendak, maka semua “ Terjadilah “. “ Kun fayakun “.

Nak, hidup adalah perjuangan, kata orang bijak itu.
Semua apa yang kita inginkan, ghalibnya memang adalah sesuatu yang harus kita UPAYAKAN dengan gigih, diraih dengan sabar, termasuk urusan memilih jodoh yang baik !. Memilih jodoh yang baik, adalah langkah awal membangun BANGSA, membangun peradaban !.
Dan setiap perjuangan, apapun bentuknya adalah suatu perjalanan panjang penuh liku yang sarat ujian, butuh langkah demi langkah laksana menyusun bata untuk suatu bangunan yang kokoh …
Karena itu ia mensyaratkan daya tahan….daya tahan …..dan DAYA TAHAN ! agar langkah itu TAK RAPUH.

Meski hidup penuh kejutan, tidak mekanistik, namun sangatlah tidak masuk akal, jika memilih jodoh yang baik, bisa dilakukan dengan cara instan. Jangan sayang….janganlah terpedaya dengan citra…dengan tampilan, kemasan yang seolah serba oke menggoda, padahal pepesan hampa.
Percayalah nak, sesuatu yang mudah hadir, akan mudah pula sirna.

Rawamangun, 16 April 2010.

2 responses to “Proses.. Ta’aruf.. Kenalan.. apapun namanya, dalam rangka mencari Jodoh :)

  1. heem mudah datang mudah pula sirna
    lha kalo orang mudik itu gak mudah datang tapi mudah pergi:D

  2. Ya Allah, artikel ini menohok sekali. Hidup yang serba instan dan pragmatis ini, butuh nasihat yang menyadarkan kita agar menghargai proses, sekaligus mempertahankan idealisme.
    Jazakillah mbak…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s