Mamah, jangan marah pliiiss ;)

Pernah terbesit gak sih.. apa hal yang paling berpengaruh

ketika seorang anak sering mendapat bentakan dari ibunya..??

Sebelumnya izinkan saya bercerita tentang adik saya, namanya Hamka. Saat ini ia sedang menempuh kuliah di sebuah universitas negri di Bandung. Usia kami terpaut enam tahun. Jadi ketika saya duduk di bangku kelas 1SD, Hamka baru lahir. Karena usia yang cukup jauh inilah maka saya pun sudah cukup bisa mengamati, apa dan bagaimana lingkungan adik saya. Meski saat itu saya sama sekali tidak bisa menganalisa.

Hamka adalah anak lelaki satu-satunya di keluarga kami. Orang tua kami sibuk, karena keterbatasan ekonomi, belum lagi kebutuhan kami yang cukup banyak untuk biaya sekolah, madrasah, pesantren, dsb. maka saya yang saat itu masih duduk di bangku SMP pun sudah sangat memahami kondisi tersebut. Konsekwensinya, saya pun mengurus adik saya.

Ibu saya tergolong keras mendidik anak. Keras dengan marah. Beberapa teman menganggap ibu saya galak. Meski kami semua tau –termasuk juga Anda tentunya- bahwa segalak apapun seorang ibu di hatinya adalah sejuta cinta untuk anaknya. Dan kami faham sikap ibu seperti itu tak lain adalah untuk mendidik kami. Terbukti, Diantara keluarga yang lain, memang orang tua kami yang paling berhasil mendidik anaknya. Sampai lulus dengan prestasi terbaik. Mendapat pelajaran agama yang terbaik. Dan di terima di universitas ternama pula.

Kembali tentang adik saya ini. Usianya sekarang sudah dewasa. Hampir kepala dua. Namun ada sikapnya yang kadang membuat kami ‘kesal dan gereget’ sendiri. Yaitu sikapnya yang menurut saya agak seperti ‘perempuan’.(hoho.. maaf,Dik!). terutama dalam mengambil sebuah keputusan. Ga tegas. Lama. Dan terkesan takut. Takut melakukan sesuatu. Takut mencoba sesuatu. Dan kalimat yang paling sering keluar dari mulutnya adalah : takut salah.

Bahkan  untuk belanjakan sesuatu dan menentukan pilihan untuk dirinya pun dia gak berani, dia selalu takut. Minta pertimbangan berkali-kali (dalam ritme yang menurut saya kurang wajar). Melihat kondisinya yang terus-menerus seperti itu, akhirnya saya prihatin. Terlebih saya adalah kakaknya yang paling dekat. Dan dia adalah anak lelaki satu-satunya dalam keluarga, yang kelak akan menggantikan peran ayah kami. Ia juga kelak akan menjadi pemimpin dalam keluarga.

Berbagai upaya pun saya lakukan. Saya terus membimbingnya untuk mengikuti berbagai organisasi untuk melatih leadershipnya. Saya titipkan ia pada beberapa teman yang baik untuk jadi teman pergaulannya, saya tempatkan ia pada lingkungan yang kondusif, dsb.

Alhamdulillah.. adik saya sekarang banyak kemajuan. Meski untuk pengambilan keputusan masih tetap sama. Rasa takut akan segala hal dalam hidupnya benar-benar sangat melekat dalam dirinya.

Seketika itulah saya menganalisa. Apa yang kira-kira membuat adik saya seperti itu. Suatu sikap yang tidak bagus dimiliki oleh seorang laki-laki. Akhirnya setelah berdiskusi dengan kakak saya.. barulah kami mengingat, bagaimana orang tua kami mendidik. Ayah memang keras, tapi lebih pada militansi seorang laki-laki. Tapi kalo ibu sebaliknya, ibu menerapkan pola pendidikan ke anak laki-lakinya, sama seperti ibu mendidik kami anak perempuannya.

Contoh sederhana : Hamka kecil sangat dilarang main diluar, kalo melakukan kesalahan sedikit akan kena marah yang luar biasa, melakukan ini itu sangat diatur dengan seksama dan salah sedikit juga akan kena marah, jika menyuruh dengan bentakan, memberikan pilihan tapi ketika salah memilih pun kena marah, dsb.

Saya ingat  benaar dulu ketika kecil saya dan kakak saya suka takut dengan ibu dan ayah. Dan mungkin itu juga yang dialami adik lelaki saya. Namun terbawa sampai dewasa.

Bagi kami anak perempuan, mendapatkan pola pendidikan seperti yang ibu terapkan memang ada positifnya, kami jadi tahan banting. Mental baja. Lebih menjaga diri, tegas, dsb. meski disisi lain kami juga merasa sulit dalam menentukan pilihan hidup kami sendiri. Ya karena itu tadi, takut salah. Takut salah.

Namun untuk seorang anak laki-laki, seperti kasus adik saya ini, justru sangat memprihatinkan. Ia jadi layaknya anak kecil yang kebingungan (padahal sekarang sudah dewasa). Tidak berani melakukan ini-itu, takut mengambil keputusan kecil untuk  hidupnya (apalagi keputusan besar). Secara refleks pun kalimat takut tertanam di kepalanya. “ah engga ah.. takut” “takut salah ah..”. Terkesan ‘cemen’ bukan..??

belakangan ini ibu memahami kondisi anak lelakinya itu. Ibu dan ayah menyadari pola pendidikan keluargalah yang telah membentuk anaknya hingga seperti itu. Terlalu banyak kekangan dan ‘omelan’ yang membuat si anak akhirnya berdampak pada kehidupannya ketika dewasa sekarng ini.

Namun semua bisa dirubah..  kami yakin itu. Adik saya akan tetap menjadi laki-laki hebat nantinya. Tentunya juga didukung penuh oleh ayah dan ibu yang senantiasa memotivasi terus dan terus.

Hidup ini memang pembelajaran, dari semua itu bukan hanya ibu saya yang belajar, tapi kami semua.. termasuk adik saya sendiri.

Semoga ini juga bisa menjadi pembelajaran untuk Anda🙂

*catatan dari seorang sahabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s