Astrie Ivo, Berbagi Pengalaman Menjadi Ibu

“Kita belum tentu bisa menjadi ibu yang luar biasa, tapi kita pasti bisa menjadi ibu yang hebat.”

Menjadi seorang ibu bagi saya adalah sebuah cita-cita yang sangat didambakan wanita. Sebuah harapan tetapi juga ujian, dan sebuah profesi yang bisa mengantarkan kita untuk meraih sebuah kemuliaan di akhirat untuk menuju surga Allah. Menjadi ibu adalah ladang untuk beramal saleh. Saking luhurnya profesi seorang ibu, maka para wanita hendaknya mempersiapkannya secara matang. Tugas seorang ibu tidak mudah, ia ibarat sebuah madrasah yang di dalamnya ada kepala sekolah, guru bahasa, guru matematika, guru budi pekerti, guru BP, satpam, office boy, bahkan tukang kebun, dan sebenarnya itulah ibu. Dan sebelum menjadi ibu pun, saya sudah mempersiapkannya. Saya belajar dari apa yang ibu saya ajarkan kepada anak-anaknya: bagaimana mereka mengenalkan saya kepada Sang Pencipta; bagaimana mereka memberi contoh-contoh yang baik; bagaimana mereka menjadi polisi yang aman untuk saya, yang saat itu mungkin saya tidak terlalu mengerti alasa saya tidak boleh melakukan ini dan itu, tapi ketika saya dewasa saya baru paham bahwa ibu sebenarnya ingin menjaga saya.

Kemudian saya juga belajar dari berbagai literatur, mulai dari bagaimana menjadi seorang istri yang baik, menjadi ibu hamil, dan menjadi ibu bagi anak-anak. Sampai saat ini saya masih terus mencari ilmu. Karena menjadi ibu adalah profesi yang tidak mengenal masanya, tidak ada ada masa cuti apalagi masa pensiun. Berbeda kalau kita sebagai karyawan atau mahasiswa, ketika lelah kita bisa istirahat sejenak atau cuti, tapi profesi sebagai ibu adalah selamanya. Walaupun saya menjalani syuting, menjadi pembicara, mengisi acara, menjadi presenter, saya tidak akan bisa cuti dari profesi sebagai ibu. Karena itu, saya harus terus belajar bagaimana agar saya bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anak, apalagi anak-anak bertambah besar.

Profesi utama saya adalah ibu, sebagai pendidik. Bukan hanya mendidik tiga anak saya, tapi juga mendidik anak-anak bangsa. Karena saya sangat mengharapkan kelak anak saya bisa bermanfaat bagi orang lain, bagi agamanya, dan bagi bangsanya. Maka, saya harus mempersiapkan mereka dengan baik. Menurut saya, hidup ini adalah pilihan. Dan saya memilih untuk menjadi seorang ibu. Banyak juga wanita yang menunda-nunda kehamilan, atau dia lebih memilih meniti kariernya daripada diam di rumah untuk menemani anak-anaknya. Pilihan ini sah-sah saja. Dan biasanya, wanita yang mengambil pilihan seperti itu karena mereka belum siap untuk menjadi seorang ibu. Itu bukan murni kesalahan mereka, bisa jadi orangtua mereka kurang mempersiapkan anaknya untuk menjadi seorang ibu. Kondisi seperti inilah yang sering terjadi.

Orangtua banyak yang sibuk mempersiapkan anaknya menjadi dokter, insinyur, seniman hebat, dan berbagai profesi lainnya. Tetapi mereka lupa untuk mempersiapkan anak gadisnya menjadi seorang ibu, sehingga ketika anaknya dewasa ia tidak siap, ia hanya melihat kerepotan-kerepotan yang menghambat profesinya atau kariernya.

………..

selelngkapnya : klik disini🙂

2 responses to “Astrie Ivo, Berbagi Pengalaman Menjadi Ibu

  1. salam kenal ya mbak,,,saya sangat mengagumi mbak sebagai wanita yang cantik sekaligus sebagai ibu yang hebat,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s