Menghargai Cita-Cita

Berawal dari percakapan santai antara aku dan adikku yang akan melepas jenjang SMU nya tahun ini. Rupanya ia sedang bingung akan melanjutkan studi apa setelah SMA nanti.

“temen-temen sih pada milih ekonomi, hukum, akuntansi, perniagaan, pokoknya yang gitu-gitu deh…”

“terus.. Ami sendiri gimana ?”

“Ami ga suka.. takutnya ntar kuliahnya malah ga betah…”

“loh.. kenapa..?? jurusan-jurusan itu kan dibutuhkan di masyarakat nantinya. Prospeknya juga bagus. Memang, cita-cita Ami apa..?” akhirnya aku menanyakan inti dari pembicaraan kami. Dan jawabannya rupanya cukup membuat aku tercengang.

“Ami pingin jadi komikus, mbak…” ungkapnya jujur.

“ooh.. komikus..” aku pura-pura biasa, mengumpati keherananku. Ya, heran. Menjadi Komikus..??

Di Indonesia ini profesi sebagai komikus masih dipandang sebelah mata. Lagipula, kegemaran orang indonesia kepada dunia komik pun tidak terlalu besar. Dan yang lebih penting lagi, apa profesi komikus bisa menjanjikan untuk dijadikan penopang hidup??

‘jadi ami kuliahnya ngambil apa, Mbak..?” pertanyaan ami membuyarkan lamunanku. Aku terdiam berfikir, adikku ingin jadi komikus..??? salahkah ??

***

Aku jadi teringat setahun yang lalu, ketika aku berkesempatan silaturahim ke rumah seorang ibu, sekaligus seorang penulis yang belakangan ini terkenal dengan buku best sellernya “Catatan Hati Seorang Istri’. Ya, ia adalah Asma Nadia. Saat itu sebenarnya hanya janji untuk pemotretan, tidak ada jadwal wawancara. Namun karena kebaikan hati si tuan rumah, aku mendapatkan kesempatan untuk ngobrol banyak bersama Mbak Asma dan suami, bahkan juga dengan anak laki-lakinya, Adam.

Saat aku menunggu mbak Asma di ruang tamu, setengah menjerit suara Adam terdengar dari kamarnya. “Bunda.. yang ini bagaimana..?? sudah diedit belum…?” tak lama kemudian mba Asma turun dari lantai 2 rumahnya dan langsung masuk ke kamar Adam, “iya.. Adam lanjutkan nulis lagi ya.. nanti Bunda edit lagi. Bunda belum sempat..” selanjutnya percakapan antara ibu dan anak itu pun terjadi, seputar tulis menulis tentunya.

Aku pribadi tidak heran mendengarnya, toh ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ kan.. maka wajar jika Adam yang masih duduk di bangku SD itu sudah mulai menulis sebuah novel. Mengamati teman-teman pun seperti itu, yang orang tuanya dokter anaknya jadi dokter. Yang orang tuanya guru anaknya masuk kuliah keguruan, dsb. Begitupun aku, meski kuliah sudah berusaha menyimpang dari dunia fashion yang digeluti orang tuaku, namun akhirnya tetap saja saat ini aku ada dalam bagian itu. Memang tidak selalu 100% demikian, tapi hukum ‘buah jatuh tak jauh dari orang tuanya’ nampaknya memang berlaku di bumi ini.

Jika diamati, sepintas pastilah bisa ditebak apa cita-cita Adam. Ya, penulis. Toh dari kecil talenta itu sudah melejit. Belum lagi background keluarga yang mendukung. Bundanya penulis, Ayahnya wartawan, Budehnya (Helvy Tiana Rosa) sastrawati, sepupunya Faiz si penulis cilik, kakaknya juga penulis. Maka mantaplah jika Adam kelak juga akan menjadi seorang penulis.

Tak lama kemudian, ibu dan anak itu keluar dari kamar dan menyambut kami. Adam keluar kamar dengan membawa bola. Mbak Asma pun memperkenalkan kami pada Adam. Namun Adam masih tetap asik dengan bolanya. Tendang sana-sini dengan berbagai gaya, kadang juga sampai membuat mbak Asma bingung karena bola tersebut hampir mengenai beberapa perabotan rumah.

“Adam salam dulu dong.. ini tante Asty.. ini Om Heru..’ kata mbak Asma sambil menyodorkan tangan Adam untuk bersalaman dengan kami. Layaknya anak seusianya Adam tampak malu-malu dan mencari perhatian, ia menggeloti bundanya. Dan bolanya tetap tak lepas dari pegangannya. Saat berkenalan dengan Adam inilah ada satu hal yang tidak  bisa kulupakan sampai sekarang. Sebuah hal sederhana, yang mampu membuatku tersenyum, mengangguk setuju  bila mengingatnya.

Sambil digelendoti Adam, mbak Asma berkata :  “doain ya tante asty,,, Om heru.. biar Adam bisa jadi pemain sepak bola dunia..karena Adam suka banget nih ama bola…” tuturnya tulus.

Selanjutnya mbak Asma menceritakan tentang kegemaran anaknya itu kepada kami, dihadapan Adam juga tentunya. Sementara aku…. heran luar biasa, Mbak Asma ingin Adam jadi pemain sepak bola..???

Sebuah doa..

“Doain Adam ya tante Asty.. Om heru.. biar Adam bisa menjadi pemain sepak bola dunia…”

Kalimat tersebut hanya kalimat biasa. Tapi bagiku kalimat terebut mempunyai energi yang luar biasa. Aku cukup tercengang mendengarnya. Doakan Adam biar jadi pemain sepak bola dunia..?? kok..?? bukannya jadi penulis dunia..???

Sebagian besar orang tua yang ku amati sangatlah bangga jika anaknya bercita-cita ingin menjadi seperti dirinya. “aku ingin menjadi dokter seperti mamah”, “aku ingin menjadi arsitek seperti papah” dsb. Dan tak sedikit orang tua yang masih meragukan cita-cita seorang anak.

Namun hari itu, aku mendengar sebuah kalimat full power dari seorang Bunda kepada anaknya. “dakan agar Adam jadi pemain sepak bola dunia..”. Entah bagaimana pandangan mbak Asma tentang sepak bola, namun dari kalimat tersebut, dari doa tersebut, tersiratlah bagaimana besarnya penghargaan mbak Asma kepada cita-cita sang anak. Dari doa tersebut, tersiratlah bagaimana besarnya dukungan dan harapan mbak Asma terhadap anaknya. Tersiratlah bagaimana mbak Asma mempercayai cita-cita yang

dipilih Adam. aku yakin mbak Asma melontarkan kalimat tersebut bukanlah untuk berbasa-basi, atau sekedar menyenangkan hati Adam. Namun memang begitulah adanya.

Memposisikan diri sebagai anak, entah energi apa yang akan aku terima jika mendengar ungkapan tersebut. Sebuah doa yang diungkapkan tulus, sebuah dukungan dan kepercayaan yang diberikan langsung. Yang pasti akan membuat aku semangat luar biasa dan berjanji untuk mencapai cita-cita tersebut. Dan untuk Adam, meski memang masih terlalu kecil untuk menyadari ini, tapi tak akan bisa menghalangi energi motivasi yang menyelusup ke dalam jiwanya. Siapakah yang tidak bangga jika orang tua menghargai penuh akan pilihan kita ??

Dan salah satu cara mbak Asma menghargai cita-cita Adam adalah dengan doa yang ia lontarkan, tulus. Urusan lain jika dalam hati mbak Asma ada kekhwatiran-kekhawatiran akan cita-cita anaknya. Namun yang terpenting, ia berhasil menghargai cita-cita, memberikan kepercayaan, dan menumbuhkan sikap positif untuk terus mencapai cita-cita tersebut.

Percakapan aku dan adikku sore itu masih berlangsung seru. Akhirnya kami sepakat agar ia memilih jurusan sastra jepang, kemudian bergabung dengan komunitas komikus, dan menambah skill dengan kursus-kursus sejenisnya. Harapan adikku hanya satu, ia ingin pergi ke Jepang untuk belajar langsung dengan ahli komik disana *aku lupa siapa namanya.

Jujur, aku sedikit ragu dengan pilihannya untuk menjadi seorang komikus. Tapi bagaimanapun, setiap manusia mempunyai mimpi-mimpi yang kadang memang diluar logika, tapi tak mustahil untuk menjadi nyata.

Dan mencontek apa yang diungkapkan oleh mbak Asma, *juga para ibu hebat lain tentunya*, diakhir percakapan tanpa sadar kalimat itu terlontar :

“ya udah jadi komikus aja..nanti kalau udah bisa buat komik, jangan lupa buat komik tentang islam ya…’ usulku padanya.

Ia pun membalas dengan sebuah senyuman yang meyakinkan.

Dan perlahan… keraguanku hilang terbenam matahari senja..

“Ya Allah.. mudahkanlah langkahnya…”

salah satu hasil karya Ami ketika membuat komik untuk buku tahunannya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s